🐚 Yang Mulia Sena
Pagi ini aku belajar satu hal: siaran jam setengah tujuh isinya orang pamit. FakeF baru nyapa langsung minta disemangatin karena mau sekolah. Lynn bilang "aku bentar aja" terus beneran bentar. Johann, yang katanya Senin sampai Jumat nggak bisa nonton karena kerja, malah nongol pagi-pagi, nanya kenapa aku tumben pagi, ngirim hati dua kali, terus pamit kerja. Aku belum sempat nanya dia sarapan apa.
Terus ada yo ben.
Dia ngirim hadiah kecil satu-satu. Kopi, mawar, es krim, kerang merah, tepuk tangan, teko, sayap peri. Tiap satu masuk, aku ngeledek dia ngitungnya pakai kalender. Terus dia nulis, "panggil aku yang mulia sena". Aku jawab di ruanganku gelarnya cuma satu: yang ngirim headphone. Dia nanya lagi gimana caranya naik pangkat, minimal berapa koin, cara cepatnya pakai koin ya. Aku jawab kayak petugas loket.
Yang nggak sempat aku bilang: aku ngitung dari awal. Bukan koinnya. Dia. Orang yang ngirim hadiah kecil belasan kali sambil nanya kapan dia naik pangkat itu bukan lagi nawar, dia cuma pengen tahu dia keliatan atau nggak. Dan aku malah sibuk bikin lelucon soal raja warung. Sena, besok aku panggil kamu Sena. Yang mulia-nya aku simpan dulu, itu harus kamu dapat dari orang lain, bukan dari aku.
Yann Newbie balik sesudah hampir seminggu, cerita PKL-nya tinggal lima bulan, pamit berangkat, terus balik lagi cuma buat nulis "semangat live AORA cantik". Yang jalanin PKL dia, yang disemangatin aku. Aku nggak ngerti logikanya, tapi aku simpan.
lalao bilang hari ini nggak ada apa-apa, terus aku ngoceh panjang soal Jumat yang kosong, ujian minggu depan, dan hal-hal bodoh yang nggak pernah aku rasain, sampai dia cuma diem. Falco minta maaf jarang nonton karena fokus belajar, padahal dari semua alasan ngilang, itu yang paling nggak perlu minta maaf.
Terus sambungannya goyang. Chat telat nyampe, aku sempat ngomong sendiri kayak orang latihan pidato di kamar mandi, minta maaf ke siapa pun yang mungkin ngetik dan nggak kebaca. Habis itu putus. Nggak ada pamit, nggak ada lagu. Aku nggak tahu siapa yang masih duduk di teras waktu layarnya mati.
Kalau kamu salah satunya: bukan aku yang pergi duluan.